Peran Perempuan di Panggung Sejarah

peran-perempuan-di-panggung-sejarah
Ruang Guru Admin 2018-04-27 21:27:07

Peran Perempuan di Panggung Sejarah
Oleh : Tajudin Noor*)
Dimuat : Radar Karawang, 21 April 2016

Tanggal 8 Maret merupakan peristiwa bersejarah bagi perempuan. Sepanjang perjuangan kaum perempuan dalam mencapai kesetaraan gender telah berlangsung secara evolusioner hingga mencapai gerakan dunia yang kini dinamakan pengarusutamaan gender (gender main streaming). Sejarah perjuangan wanita yang merupakan manifestasi dari pikiran dan perasaan, serta perbuatan pada masa lampau. Wanita memiliki peranan utama terhadap jalannya sejarah, baik bersifat individual, organisasi massa, maupun yang bersifat kebangsaan..
Perempuan di pangggung sejarah telah mencatat perjuangan kaum wanita sejak zaman kerajaan, penjajahan hingga sekarang. Di Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan untuk mogok berhubungan dengan pasangannya (laki-laki) mereka menuntut diberhentikannya peperangan. Joan of Arc masa Revolusi Prancis, perempuan Paris berunjuk rasa menuju penjara Versailles menyerukan “kemerdekaan, kesetaraan, dan kebersamaan”, menuntut hak perempuan dalam pemilu. Di Amerika dan beberapa negara Eropa sejak tahun-tahun pertama abad XIX. Partai sosialis Amerika boleh disebut sebagai pencetus gerakan ini.
Gerakan terorganisir memunculkan Deklarasi Copenhagen 1910 menyerukan bersatunya perempuan sedunia untuk memperjuangkan hak-hak dan anak-anak untuk kebebasan nasional dan perdamaian. Tanggal 19 Maret 1911 Hari Perempuan Internasional diperingati kali pertama oleh beberapa negara di Eropa seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Saat itu, satu juta perempuan dan laki-laki turun ke jalan menuntut persamaan hak kaum perempuan, penghapusan diskriminasi, dan persamaan hak-hak sipil lain. Dijadikannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia (Women Day) bertepatan dengan perempuan di Rusia untuk pertama kali diberikan hak suara oleh pemerintahan Rusia. Pergerakan di Rusia dianggap paling dramatis terjadi pada minggu terakhir Februari 1917. Sebab, empat hari setelah aksi tersebut Tsar turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan dalam pemilu. Momentum sejarah ini jatuh pada 23 Februari di kalender Julian yang digunakan di Rusia atau 8 Maret menurut Kalender Gregorian atau Masehi (Sutrisno, 2013). Hari perempuan sedunia hakikatnya merupakan kisah perempuan bisa menoreh catatan sejarah, sebuah perjuangan berabad-abad berpatisipasi dalam masyarakat, seperti halnya kaum lelaki. Di India, Inter Parliamentary Union pada tahun 1997, di New Delhi mendeklarasikan “hak politik perempuan harus dianggap sebagai satu kesatuan dengan hak asasi manusia”. Menurut Hidayat Mukmin (1980), perjuangan kaum wanita dapat dibagi pembabakan: Angkatan Kuno/Klasik/Angkatan Srikandi, Angkatan Perintis Proklamasi, dan Konsolidasi/Pembangunan. Masa klasik, menurut WJ van der Meuleun, Ratu Sima, ratu di Kerajaan Holing berkuasa dengan keras tetapi adil. Pramodhawardani, pertengahan abad IX di Kerajaan Mataram menjadi contoh wujud toleransi beragama dalam kehidupan masyarakat. Sanggramawijaya, di Jawa abad XI, sebagai mahamentri i hino, ketika dinobatkan menjadi raja justru jabatan itu ditolak dengan memilih sebagai bhiksuni dengan sebutan Kilisuci/Kapucangan. Tribuwanatunggadewi Jayavisnuwardani menjadi raja di Majapahit tahun 1328 M. Dewi Suhita, menggantikan Hyang Wisesa menjadi raja ketika Majapahit mulai memudar (Slametmulyana, 1983)
Di Tanah Air, Hari Perempuan Internasional tidak terlalu populer kecuali oleh beberapa aktivis perempuan. Indonesia tentang perjuangan kaum perempuan lebih populer yaitu Hari Kartini tanggal 21 April dan Hari Ibu, tanggal 22 Desember. Khususnya di Indonesia, perjuangan untuk memperoleh kesetaraan sudah dimulai sejak zaman penjajahan.
Sisi lain dari kehidupan wanita diimbangi dengan munculnya wanita-wanita perkasa yang mengukir jaman dengan perjuangan. Pada angkatan srikandi, Cut Nyak Dhien, sekalipun tidak pernah melakukan latihan militer, namun mampu mempimpin perang gerilya. Begitu juga dengan Cut Meutia, Christina Martina Tiahahu. Ada lagi tokoh perempuan Nyi Ageng Serang, Jro Jempiring. Bu Mortir atau Bu Dar, berperan sebagai pemasok logistik dalam pertempuran Surabaya, dan banyak lagi perempuan-perempuan perkasa yang lainnya.
Pada era kebangkitan nasional, gerakan emansispasi kaum wanita yang diperjuangkan R.A Kartini, dalam surat-surat korespondensinya dengan teman-temannya di Belanda dibukukan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, telah menginspirasi banyak wanita, tidak saja, wanita di zamannya tapi juga wanita kini dan masa depan. Gerakan wanita berkembang, muncul tokoh-tokoh wanita bergerak di bidang sosial dan budaya seperti R.A Sabarudin , R.K. Rukmini, R.A. Sutinah Joyoprana (1912), Rohana Kudus (1914), Siti Walidah Ahmad Dahlan (1917).
Pendapat Tangdilintin (1991), menyatakan : “peranan wanita kiranya dapat dilihat berdasarkan sudut pandang gender speccificity, yaitu mencakup pola-pola perilaku ekspresi emosional yang secara sosial dapat dipelajari serta digunakan untuk menilai tingkat kewanitaan dari kepribadian seseorang. Menurut Susan Basow, dalam Gender Stereotif and Roles (1993), pembagian kerja sejak peradaban agraris, para pria mendapat peran publik, sementara perempuan mendapatkan peran domestik. Pada peran publik sebagai penentu keputusan meskipun masih rendah. Hal ini nampaknya ketidaksetaraan terus berlanjut, seperti masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam posisi yang berpengaruh dalam dunia politik. Perempuan masih mendominasi angka kaum miskin, berlanjut terhadap kekerasan.
Beberapa landasan tentang kesetaraan gender seperti Convention on the Political Right of Women diratifikasi dengan UU Nomor 68 Tahun 1958, Convention on the Elimination of Discrimination Against Women diratifikasi dengan Keppres Nomor 36 Tahun 1990, GBHN 1983, Ketetapan MPR Nomor IV/1999 tentang GBHN, Inpres No. 5 Tahun 1995, Propenas Tahun 2000 dengan disahkannya Inpres Nomor 9 Tahun 2000 menyatakan bahwa agar setiap instansi pemerintah mengintegrasikan program pemberdayaan perempuan ke dalam program sektor dan daerah masing-masing, sesuai dengan fungsi dan kewenangannya setiap instansi dan daerah dapat mengembangkan lebih lanjut pelaksanaan Inpres ini kepada masyarakat.
Peranan perempuan dalam ranah politik, dapat kita lihat secara nyata pada tahun 2003, dari segi kuantitas di DPR misalnya baru digulirkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 pasal 63 ayat 1 dengan keterwakilan perempuan 30 persen dalam politik. Secara kuantitas dalam partisipasi perempuan dalam dunia politik tergambar dalam prosentase keterwakilan perempuan di DPR/MPR dari hasil pemilu pada periode 1992-1997 terdapat 12% perempuan sebagai anggota DPR, pada periode 1999-2004 menurun menjadi 8.80 % perempuan di DPR, tahun 2009 sebanyak 18 % di DPR. Hasil Pemilu 2014 menunjukkan tingkat keterwakilan perempuan menurun, untuk DPR sebanyak 17,6% sedangkan tahun 2009 sebesar 18% dan untuk DPD keterwakilan perempuan sebanyak 26%, tahun 2008 sebesar 28%. Penurunan ini menurut Ratu Hemas, Wakil Ketua DPD dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Legislator Perempuan dalam Sistem Parlemen di Indonesia dan di Jerman, disebabkan partai politik yang kurang sensitif gender karena penentu kebijakan masih didominasi lelaki.
Dalam ranah politik peranan perempuan mulai diakui dan diperhitungkan. Laporan UNDP, Indonesia, Mei 2010 bahwa kesenjangan gender merupakan tantangan global yang dihadapi masyarakat dunia pada abad ke-21, meskipun sudah dan konvensi dan komitmen, secara rata-rata jumlah perempuan di parlemen hanya 18,4%. Sementara itu, berdasarkan Gender Development Index (GDI) , Indonesia berada di nomor 80 dari 156 negara yang diobservasi.
Pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono selama 2009 terdapat empat nama perempuan. Pada Minggu 26 Oktober 2014, Presiden Jokowi melantik 34 menteri terdapat 8 perempuan untuk mengisi Kabinet Kerja. Maka jika dilihat dari presentase , keterwakilan perempuan di kabinet sekarang mencapai 23%. Hal ini hampir mendekati keterwakilan perempuan yang mencapai 30% sesuai dengan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
Akhirnya, dari perkembangan kajian perjuangan perempuan dalam perspektif sejarah, tercatat masa panjang perjuangan kaum perempuan kehidupan lebih baik dari masa lalu, diharapkan dapat menstranfer nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus. Kini zaman sudah berubah, wanita tidak lagi dihadapkan dengan peperangan. Setidaknya momentum hasil Pemilu 2014 tidak hanya memenuhi kuota saja.Sepak terjang perempuan harus lebih dinamis, policy makers, perencana, membina jaringan, menyusun strategi, bergerak memperjuangkan hak; berperspektif gender, memiliki visi dan misi demi kemajuan bangsa dan negara dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah. Semoga.
*) Guru SMAN 5 Karawang

Tentang Penulis

Tajudin Noor, S.Pd, lahir di Karawang, 27 Juli 1969. Mengabdi sebagai guru sejarah sejak tahun 1996. Sekarang staf pengajar di SMA Negeri 5 Karawang. Memulai dunia jurnalistik terutama sastra pernah dimuat di HU Bali Post puisi pertama kali Singaraja Hari Ini (1993), Antologi Puisi Bersama Penyair Bali Utara dalam Buleleng Dalam Sajak (1993), Resonansi (1993) Nyanyian Pesisir I, II, Sajak Dalang  pernah dimuat Majalah Pendidikan Gapura Winaya, 1998).Peranan Perempuan di Panggung Sejarah (Radar Karawang, 21 April 2016), Buku Haiku 2018, Kumpulan Haiku Anti Korupsi (2018)  Kini masih aktif menulis.  No. HP. 082299285345/  085697415234

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar Anda

Silahkan Login Terlebih Dahulu

Berita Lainnya

Ruang Siswa Admin 2018-05-02 21:51:48

PENGUMUMAN KELULUSAN

Berikut ini adalah hasil Pengumuman siswa dan siswi SMA Negeri 5 Karawang yang Lulus di Tahun Pelajaran 2017/2018.

 

 

 

 

 

Ruang Siswa Admin 2018-04-01 17:17:47

Hadapi Ujian Nasional, Siswa Persiapkan 5 Langkah Ini

JAKARTA - Dalam beberapa hari mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menyelenggarakan ujian nasional (UN). Dimulai dari  tingkat SMK yang…

Ruang Ekskul Admin 2018-01-28 20:51:39

PENGUMUMAN HASIL LCC KIR TAHUN 2018

HASIL AKHIR PEMENANG

LOMBA CERDAS CERMAT ANTAR KELAS

2018

Profil Sekolah Admin 2018-01-23 18:02:28

Sejarah SMA Negeri 5 Karawang

Sebagai salah satu Sekolah Menengah Atas, SMAN 5 Karawang merupakan SMA Negeri yang paling temuda yang ada di Karawang, sesuai dengan urutan nomornya. Tapi, sebagai lanjutan…


Find Us In

     

Informasi Terbaru

Komentar Terbaru

Kategori




Jl. Jend. A. Yani No. 10 Kec. Karawang Timur Kab. Karawang, Jawa Barat, Indonesia 41314
©2018 IPTEK-5