Guru Abad 21, Belajarlah dari Cokroaminoto, Ki Hajar dan Ibu Muslimah

guru-abad-21-belajarlah-dari-cokroaminoto-ki-hajar-dan-ibu-muslimah
Ruang Guru Admin 2018-05-18 14:48:18

 

Pada beberapa buku dan literatur " Soekarno Sang Proklamator:  banyak menyebut nama HOS Cokroaminoto sebagai guru sejatinya. Tidakkah kita penasaran dan bertanya, guru seperti apa yang "menghasilkan" murid sekaliber Soekarno, seorang tokoh besar yang mungkin tidak lahir setiap seratus tahun sekali?


 Soekarno menceritakan betapa dirinya belajar banyak dari Cokroaminoto melalui "gelontoran" buku-buku bacaan cukup berat. Buku-buku yang tidak ada habisnya pada saat ia masih berusia 15 tahun. 

Ya, dari Cokroaminoto itulah pemuda Soekarno belajar mengarungi luasnya dunia literatur di zaman belum ada internet. Dari Cokroaminoto pulalah pemuda Soekarno belajar bahwa ilmu tidak berbatas, dan hanya niat untuk maju yang membuat seseorang sadar bahwa setiap orang dapat berkelana tanpa batas mencari ilmu (global wareness). 

Guru sebagai model dan inspirasi 

Cokroaminoto bukan "mengajar', tapi dia menjadi inspirasi. Dia menjadi "model" bagi muridnya. Kata bijak Cokroaminoto yang paling terkenal adalah: "Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat, menunjukkan integrasi komprehensif antara ilmu akademis, aplikatif, beretika dan bermoral". 


Kepala Sekolah SMAN 5 KarawangBisa dibayangkan, pendidik sekaliber apakah seorang Cokroaminoto? 

Tentu saja, Cokroaminoto bukan sekadar "mengajar", tapi dia mendorong muridnya untuk berpikir kritis (critical thinking). Dia melatih mereka agar melihat semua hal dari berbagai perspektif. 


Tak heran, dari tangannya lahir tokoh-tokoh nasional yang mempunyai "warna" berbeda-beda. Sebut saja Semaun dan Kartosuwiryo, selain tentu saja Soekarno. Ketiganya adalah "produk" seorang guru yang memberi ruang seluas-luasnya bagi anak didiknya untuk mengeksplorasi buah pikir, ide, dan gagasan-gagasan, walaupun gagasan itu bisa jadi jauh dari mainstream dan kontroversial. 

Cokroaminoto bukan "mengajar", tapi dia mendorong anak didiknya untuk bisa menentukan tujuannya sendiri (self direction). Ia tidak pernah takut menjadi berbeda dan memiliki warna sendiri, walaupun risikonya adalah penolakan dan perlawanan dari lingkungan (risk taker).

Di luar segala kontroversi tentang tokoh-tokoh tersebut, bisa dilihat keberagaman murid-murid Cokroaminoto: Soekarno yang nasionalis, Semaun yang sosialis, dan Kartosuwiryo yang Islam fundamentalis. 


Guru sebagai among dan pamong

Guru yang hebat bukanlah guru yang mengharuskan muridnya memberi warna merah untuk bunga mawar atau biru untuk laut. Guru yang hebat bukan karena semua muridnya pemenang olimpiade Matematika, bukan karena semua muridnya diterima di perguruan tinggi negeri. Bukan juga karena semua muridnya jadi dokter atau insinyur. Guru yang hebat bukan pula yang menghasilkan murid "seragam", tapi murid yang "beragam".

Masih ingat cerita ibu Muslimah yang menjadi inspirasi penulis novel 'Laskar Pelangi'? Masih ingat Harun, salah seorang muridnya yang menderita down syndrome?

Muslimah bersedia mendedikasikan waktu, usaha dan kesabaran ekstra bagi Harun. Muslimah meng’among’ murid berkebutuhan khusus itu jauh sebelum konsep insklusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus diterapkan di sistem pendidikan modern. 

Pada saat sekolah terancam ditutup karena kurang biaya operasional, Muslimah berdiri paling depan untuk memperjuangkan agar sekolah tetap berdiri. Dia tunjukkan jiwa kepemimpinannya. 

Kita mengenal Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang sudah sejak lama mengusung konsep luar biasa tentang guru berkualitas. Guru sebagai among dan pamong. Muslimah adalah salah satu contoh itu, yaitu bagaimana seorang guru berperan ganda sebagai among dan pamong (leader) pada saat yang bersamaan. 

Salah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah S-2 di Belanda bercerita tentang kagumnya dia dengan attitude para dosen di sana yang sangat mudah dihubungi. Bahkan, seorang dosen tak segan membalas missed call dari mahasiswa yang ingin bertemu sekedar untuk menyampaikan kekhawatirannya tidak dapat mengikuti perkuliahan yang dianggap berat. 

Tak hanya itu. Mahasiswa lain juga bercerita bagaimana para dosen di Belanda tidak merasa direndahkan apabila mahasiswa mengkritisi atau mengajaknya berdebat. Bagi mereka mengajar bukan sekedar teaching tapi juga learning. Dosen juga harus belajar.

 

 HOS Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara memang tidak hidup di abad 21. Muslimah pun sudah pensiun sebagai guru pada saat konsep '21st Century Skills' menjadi jargon baru di dunia pendidikan. 

Boleh jadi, istilah collaboration, creative thingking and problem solvingself direction, communication, dan global awareness pun tidak sempat mereka kenal. Namun, pada kenyataannya, keterampilan-ketrampilan itulah yang mereka ajarkan kepada anak didiknya. Maka, jelas sekali, bahwa 'Keterampilan Abad 21' itu sebenarnya bukan konsep 'baru'. 

Ya, kita memang sering lebih percaya pada suatu konsep dan gagasan jika berasal dari barat, yang dikemas dengan istilah-istilah keren nan canggih. Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara dan Muslimah membuktikan bahwa guru tidak cukup hanya memiliki ilmu akademis dan pedagogis. Guru juga harus seorang pembelajar (learner) seorang among (collaborator, communicator, adaptor) sekaligus pamong (leader), berani memberi tantangan bagi muridnya (risk taker), sebagai panutan (model), serta punya visi jauh ke depan (visionary). Sejatinya, itulah yang sekarang ramai dibicarakan sebagai '21st Century Educator'.

Saat ini banyak sekolah dan perguruan tinggi, bahkan pemerintah seakan berlomba menerjemahkan konsep tersebut dengan merancang materi pengajaran yang mempunyai aroma '21st Century Skill'. Mereka merujuk ke berbagai hasil riset dari para pakar pendidikan barat atau menghadiri seminar-seminar internasional. Padahal, jika mau sedikit peka dan jeli, kita dapat banyak belajar dan menelaah konsep "mendidik" yang berakar dari nilai-nilai luhur bangsa ini dan telah diterapkan para pendidik nasional kita.

Ujung tombak

Guru adalah ujung tombak pendidikan nasional. Bukan kurikulum, bukan buku paket, bukan fasilitas lengkap dan canggih. 

Seberapa sering isu tentang peningkatan kualitas guru dan dosen diperdebatkan di acara-acara talk show di televisi? Seberapa sering kita mengangkat topik tentang program peningkatan kualitas para guru di daerah terpencil? Pernahkah kita mengangkat topik tentang target Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan akhir 2014 lalu yang menyatakan bahwa semua dosen perguruan tinggi harus memiliki gelar S-2? 

Sampai saat ini tercatat, dosen berkualifikasi akademik S-2/S-3 baru mencapai sekitar 66 persen atau sekitar 110 ribu dosen. Padahal, kita memiliki dari 3000 lebih lembaga pendidikan tinggi. Permasalahannya bukan pada dana, tapi kesulitan kita mendapatkan kandidat berkualitas, terutama untuk yang akan meneruskan studi di luar negeri.

Sebagai gambaran untuk program S-3 ke perguruan tinggi di Belanda, DIKTI bekerjasama dengan Netherlands Education Support Office (Neso) menargetkan mengirim 50 dosen calon doktor setiap tahun untuk studi di Belanda. Hasilnya? Tak sampai setengah dari target tersebut tercapai karena sedikitnya calon bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan perguruan tinggi di Belanda.

Topik tentang pengembangan kualitas guru mungkin tidak semenarik topik tentang pergantian menteri pendidikan, gonta-ganti kurikulum, atau topik tentang Ujian Nasional. Dikaitkan dengan konsep 'Keterampilan Abad 21', seharusnya kita berpikir, guru seperti apakah yang mampu mendidik siswa sehingga mereka memiliki 'Keterampilan Abad 21' itu? Apakah cukup dengan merevisi materi pengajaran, penambahan fasilitas pengajaran dan instrumen evaluasi, target siswa dengan 'Keterampilan Abad 21' bisa tercapai?

Sudah saatnya kita lebih kritis dan peduli tentang kualitas guru dan berusaha untuk meningkatkannya. Sudah saatnya kebijakan pendidikan nasional lebih menekankan pada pentingnya bangsa ini memiliki guru berdaya saing global, profesional, dan berkarakter. Guru yang tidak hanya mengajar, tapi mendidik siswa menjadi manusia yang berdaya saing global, profesional, dan berkarakter.

Maka, mari wujudkan Indonesia yang memiliki guru yang mampu membentuk kehidupan anak bangsa. Seperti kata Soekarno, "HOS Tjokroaminoto itulah yang membentuk seluruh kehidupan saya". 

Selamat Hari Pendidikan Nasional Sebuah harapan tersirat dalam hati, semoga bersama ini pendidikan semakin maju dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas!!!

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar Anda

Silahkan Login Terlebih Dahulu

Berita Lainnya

Profil Sekolah Admin 2018-01-23 18:02:28

Sejarah SMA Negeri 5 Karawang

Sebagai salah satu Sekolah Menengah Atas, SMAN 5 Karawang merupakan SMA Negeri yang paling temuda yang ada di Karawang, sesuai dengan urutan nomornya. Tapi, sebagai lanjutan…

Ruang Guru Admin 2018-04-27 21:27:07

Peran Perempuan di Panggung Sejarah

Peran Perempuan di Panggung Sejarah
Oleh : Tajudin Noor*)
Dimuat : Radar Karawang, 21 April 2016

Tanggal 8 Maret merupakan peristiwa bersejarah…

Ruang Guru Admin 2018-04-27 22:01:21

Peran Guru di Zaman Now!

Peran Guru di Zaman Now
Tajudin Noor *)
(Dimuat dalam Pikiran Rakyat, Forum Guru, Selasa, 3 April 2018)


PENGGUNAAN

Profil Sekolah Admin 2018-03-26 13:15:01

DATA PRESTASI SISWA TAHUN 2016-2018

Data Prestasi

Siswa  SMA Negeri 5 Karawang

2016 - 2018


Find Us In

     

Informasi Terbaru

Komentar Terbaru

Kategori




Jl. Jend. A. Yani No. 10 Kec. Karawang Timur Kab. Karawang, Jawa Barat, Indonesia 41314
©2018 IPTEK-5